RESIGN AJALAH!

Resign atau tidak?

Resign?

Tidak?

 

Mempertimbangkan resign atau tidak bagi saya butuh waktu nyaris setahun. Dari awal 2018, saya mulai berpikir untuk resign. Satu saat saya mantap semantap janji pernikahan yang saya bacakan di depan pendeta, orang tua, keluarga, serta hadirin dan hadirat sekalian. Tapi tak berselang lama, saya berubah pikiran karena banyak hal. Jadi ya gitu deh, maju mundur maju mundur syantiikk.. syantiikk…

Urusan resign atau tidak ini kayak-kayaknya jadi dilema untuk wanita-wanita manjah di luar sana juga ya. Eh atau cuma saya aja sik? Kayaknya gak deh ya, soalnya banyak kalik teman-teman saya yang bolakbalikbolak ngomongin beginian. Apalagi saya dan teman-teman saya boleh dikatakan berada di usia yang cukup matang, yang sudah cukup lelah menjalani segala carutmarut dunia kerja dan segala permasalahannya yang kadang bikin merana. Matang maksudnya dewasa gitu yak. Bukan tua!!

Jadi singkat cerita yang kayaknya gak akan singkat-singkat amat ini, saya coba corat-coret beberapa alasan kenapa saya kepingin resign. Buanyak sik, dari hal penting sampai hal tak penting. Tapi sehubungan dengan usaha pencitraan saya dalam memulai blog baru, maka saya akan tuliskan hal-hal yang tidak terlalu memalukan saja.

Kata kuncinya adalah LELAH. Lelah terhadap hal-hal sebagaimana dan terkait dan menyinggung dan menyerempet poin-poin berikut :

1. Lelah menjadi orang bayaran

Cateett.., bukan perempuan bayaran! Untuk gambaran sodara-sodara nih ya, kalau ditotal-total jam terbang saya sebagai karyawati teladan nan budiman ini nyaris 15 tahun di 3 perusahaan yang berbeda dengan status abadi sebagai  kacung kampret. Sungguh sebuah prestasi yang menyedihkan.

Namanya jadi karyawan kan kudu ikut aturan yak. Pun saya sebagai perempuan setengah muda ini, dengan penuh kepatuhan menjalani hari-hari saya dengan berangkat pagi-pagi dan terkadang baru pulang tengah malam. Serius tengah malam, soalnya saya sering harus mengurus proyek-proyek yang kelarnya ya emang jam segituan.

Beberapa kali pas pulang harus melewati 4 portal menuju rumah saya yang dijaga bapak-bapak srikiti nan baikhati –  yang mana portal tersebut ditutup setiap jam 10 malam – lalu sampai rumah ternyata sudah ditinggal tidur oleh hanihbanihswiti. Di situ saya merasa sungguh perkasa.. dan merana…

2. Lelah dengan situasi kerja yang ada

Dari 15 tahun yang saya lewatkan untuk mengabdi dan menghamba dengan seksama, 12 tahun terakhir saya menggantungkan hidup saya di salah satu perusahaan media terbesar di negeri kita tercintah ini. Apa coba, coba apa? Yang pertama berhasil menebak nanti saya kirimi baju lucuk buatan saya sendiri. Serius loh ini..

Sepanjang masa itu, saya lelah harus terus mengulang pattern yang sama : dipindah ke unit yang performanya jelek – berhasil naikin performa – dipindah lagi ke unit yang performanya jaoh lebih jelek – berhasil lagi – pindah lagi – gitu aja terus sampe onta berpunuk lima..

Jadi gini, selama 12 tahun ituh – eh 13 tahun kalau masa kontrak saya dihitung – saya pernah ditempatkan di 13 unit yang berbeda, plus 1 proyek besar di luar unit. Jadi ya rata-rata setahun pindah, meski ada juga yang baru 6 bulan sudah dipindah. Dan pindahnya juga gak becanda ya sheyeenngg.., keluar kota kemana-mana lah.

Ini kalau ada yang ngatain saya manja kebanyakan ngeluh saya timpuk juga deh yak. Deritanya panjaaanngg.. dan lamaaaa…

Dari rencana nikah yang kudu diundur karena proyek tak bisa ditinggal, trus abis nikah kudu LDRan, trus sekalinya hanihbanihswiti ngalahin pindah biar bisa deket eh sayanya dipindah lagi, trus LDRan lagi, trus kudu ribet cari kost baru tiap pindah, trus klaim duit kost ga bisa 100% plus lama cairnya, trus ongkos pulang ketemu hanihbanihswiti cuma diganti tiap 2 bulan sekali, trus pindahnya bisa dari ujung ke ujung tak mau tau penderitaan cinta kami berdua, trus ngasik tau info kudu pindah kadang H-3 doank, dst dst.

3. Lelah berpura-pura dan merasa mulai kehilangan identitas diri

Jadi awalnya pada jaman dahulu kala, saya sik betah dan nyaman-nyaman aja bekerja di sana. Tapi belakangan, bisa dibilang sekitar 3 tahun terakhir lah yak kira-kira, entah kenapa rasa itu menghilang begitu saja. Eh ya bukan entah sik, jelas dan nyata, tapi kok gak etis dan males juga pabila dijabarin. Dijatengin dan dijatimin aja..

Pada intinya adalah, saya berada di posisi yang kudu iyes-iyes aja. Benar ataupun salah, kudu ya kudu. Nah disinilah saya mulai ingin bernyanyi, “kutak sangguuuppp… bilaaaaa…. harus gituuuhhh…” (Red : gunakan melodi lagu mbak KaDe ketika membaca ini)

Nah bener kan, singkat namun gak singkat. Ya intinya gitu, awal tahun lalu saya jadi mikir-mikir, sebaiknya resign atau tidak ya. Nah tapinya, ternyata tak gampang loh memutuskannya. Tak semudah masak aer panas yang tak perlu dicicipin sudah matang atau belumnya..

Pertimbangannya banyak kalik. Mikir gimana kalau nanti saya pergi trus anak-anak yang saya tinggalin bisa jalan sendiri atau tidak, trus mikir gimana kalau resign saya mau ngapain, trus mikir nanti gimana cicilan rumah dll. Intinya banyak lah.. Jadilah rencana ini menjadi sekedar wacana hingga sekian lama.

Lalu menjelang akhir tahun, terjadilah apa yang sudah biasa terjadi namun saya tak sanggup lagi menjalani : DIPINDAH. LAGI!!

Nah bisa dibilang inilah gongnya. Saya sudah tak lagi muda sodara-sodara, mau sampai kapan saya begini yekan.. Tapiii…, tentu sebagai perempuan yang (mengaku) cerdas, saya tak mau membabibuta ambil keputusan. Ada beberapa hal yang saya pastikan dulu sebelum ambil keputusan, ketimbang menyesal kemudian – karena konon katanya penyesalan datangnya belakangan, kalau di awal namanya lamaran.

Nah barangkali ada yang mau tahu, gak pun gak papa karena masih ada tempe, ini pertimbangan dan persiapan saya menuju detik-detik penentuan:

1. Mengkondisikan pekerjaan

Saya mengobrol baik-baik terlebih dahulu dengan anak-anak, memastikan mereka siap kehilangan saya yang begitu lembut dan keibuan, yang selama ini senantiasa menjaga dan melindungi mereka dengan penuh kasih sayang.

Semua ilmu saya turunkan dengan baik dan benar. Yang tak baik dan tak benar, mereka sudah jauh lebih paham daripada saya.

2. Mulai berpikir apa yang akan saya lakukan setelah resign

Sebagai perempuan masa kini yang mandiri dan berprestasi, tentu saya tak sudi menggantungkan hidup pada hanihbanihswiti. Ya minta-minta uang jajan sesekali boleh lah, misal sejam sekali atau apes-apes sehari sekali. Tapi jangan terus-terusan, berkelanjutan sahajah..

Nah disini saya sudah punya keyakinan bulat sebulat badan saya, bahwasanya saya tidak akan bekerja untuk orang lagi. Lalu ngapain? Ada banyak di kepala saya, masalah yang mana yang akhirnya saya jalani, nanti saya share di postingan selanjutnya ya..

3. Menggali informasi sebanyak-banyaknya terkait hak-hak finansial saya

Ini penting sodara-sodara, karena point 2 hanya bisa terwujud kalau saya dan andah-andah punya modal. Nah sayangnya kan saya bukan perempuan yang gemar menabung gituh, jadilah urusan ini harus benar-benar saya hitung dengan benar sebenar-benarnya.

Browsing, nanya ke teman-teman yang kebetulan ada di HR Dept., sharing dengan teman-teman yang sudah resign sebelumnya. Kutakkutikkutak, muncullah perkiraan angka yang mendekati akurat.

 

Nah setelah 3 point itu saya lakukan dan saya merasa makin mantap, akhirnyaaaa… tiba waktunyaaaa…. saya mengajukan surat resign. Langsung kepada Yth. Bapak Direktur HR yang tercinta, di suatu kafe yang saya lupa namanya di sebuah mal di Jakarta Barat, sebut saja Central Park. Kenapa di sana? Ya karena bapaknya sedang tidak berada di kantor, sementara saya tak kuasa lagi menahan hasrat ini.

Trus pengunduran dirinya langsung diterima? Oh ya tentu saja tidaaakk.. Bapaknya ngomong panjangkalilebarkalitinggi, lalu menawarkan akan membatalkan rencana pemindahan saya endesbre endesbre.

Untung saat itu saya sedang dalam kondisi sehat dan bahagia, sehingga saya tidak serta merta termakan oleh bujuk rayunya. Maksudnyah gini, basa-basi begini kan biasa digunakan oleh para petinggi yekan? Eh iya bukan sik. Ya pokoknya sik saat itu saya berpendapat demikian..

Jadi resmilah pada akhirnya saya mengakhiri perjalanan hidup saya sebagai buruh jelita per tanggal 1 November 2018, dengan mengambil cuti sebulan penuh sepanjang bulan Oktober. Sedap nian selama sebulan itu saya nganggur-nganggur dan tetap dibayar. Sungguh pengalaman tak tergantikan.

Pada akhirnya, izinkan saya membuat resume untuk yang malas membaca kisah panjang unfaedah ini. Kalau suatu saat kalian mengalami kelelahan yang sama seperti yang saya rasakan, jangan buru-buru resign. Ingat, kata emak jangan pernah mengambil keputusan dalam kondisi emosional. Pastikan dulu melakukan minimal 3 hal yang saya lakukan sebelumnya.

Poin 1 sangat penting, karena kita masuk kerja baik-baik kan, keluarlah dengan baik-baik pula. Jangan kabur begitu saja, karena ini hanya biasa dilakukan oleh barisan para mantan tak berhati.

Poin 2 lebih penting. Jangan sampai setelah resign hidup kita justru jadi tak karuan. Mau cari kerja lagi atau mau usaha sendiri atau mau di rumah saja, putuskan dari awal. Syukur-syukur sudah ada persiapan sebelumnya.

Poin 3 paling penting. Banyak yang asal resign tanpa tahu bahwa sebenarnya ada hak-hak yang bisa kita dapatkan. Contoh, saat saya resign saya jadi punya modal berupa : 3x gaji, pencairan BPJS, tabungan pensiun BNI Simponi, plus masih ada tabungan kesejahteraan karyawan. Ditotal-total lumayan sangat lah ya untuk bertahan dan memulai perjalanan hidup saya yang baru.

Kalau 3 point itu sudah dilakukan dan sudah merasa siap, lalu bagaimana?

Ya RESIGN AJALAH…

PS :

  • Kapan-kapan saya share tips mencairkan dana-dana tersebut. Birokrasi kadang rumit, tapi kalau tahu celahnya jadi gampang kok ternyata
  • Kalau ada yang bertanya apakah setelah resign hidup jadi selalu menyenangkan, jawaban saya tentu tidaaaaakkk… Ini baru awal. Perjuangan masih panjang sodara-sodaraaa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *